Waktu Yang Tepat

0
58
waktu yang tepat

Saya selalu percaya bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing untuk menjalani setiap fase dalam kehidupannya. Ada yang ditetapkan menikah muda, ada pula ditetapkan menikah di usia yang lebih matang. Ada yang diberi anugerah keturunan saat masih belia, ada pula yang harus menunggu lama. Demikian juga dalam perkara maut, ada yang sudah dijemput maut saat remaja, ada pula yang hingga usia senja, maut belum juga menyapa. Semua sudah ada waktunya masih-masing, sudah ditetapkan. Saya rasa ini adalah satu bagian dari iman, percaya bahwa semua ada waktunya. Jadi hal yang penting adalah apa yang kita lakukan sambil menunggu waktu itu datang.

Maka dari itu, ketika saya memasuki usia dua puluh delapan tahun, sudah punya pekerjaan yang stabil dan masih belum ada bayangan sama sekali mau nikah sama siapa, daripada galau tidak jelas, saya menuruti nasehat bijak Mbak Via Vallen, “Mending nyicil motor podo mumete nanging ono hasile ketimbang mikir kowe (lebih baik nyicil motor sama pusingnya tapi ada hasilnya daripada mikirin kamu)”. Sejatinya, there’s wisdom in dangdut koplo culture. Thus, karena saya sudah tidak nyicil motor dan masih ngekos langsung aja kepikiran, “Punya rumah sendiri enak nih”.

Perjalanan Mendapatkan Rumah Idaman

Maka dimulailah pencarian rumah yang ternyata tidak gampang-gampang amat. Ada rumah yang masuk di budget yang saya punya, eh lokasinya di satu gang dengan lokalisasi prostitusi. Lokasi perumahannya masih 3 kilometer dari lokasi prostitusinya tapi gang-nya jadi satu. Rawan banget untuk perempuan single yang berencana tinggal sendiri. Pulang malem dikit ntar ditawar huhuhuhu… ada juga perumahan yang lokasinya oke, bangunan oke, yaa harganya lebih dari pagu anggaran yang saya punya huhuhuhu…

Rasanya hampir satu tahun saya mencari dengan santai rumah sederhana untuk ditempati sendiri. Hingga suatu Minggu pagi, saat sedang jalan santai dengan teman-teman di Alun-alun Kajen, tanpa sadar kami melewati promo agen perumahan. Iseng aja saya ambil satu brosur dan berlalu begitu saja karena sudah tahu jalan menuju lokasi perumahan jelek banget. Setelah sampai rumah kok saya nggak sengaja liat lagi ada promo cashback, iseng saya ajak temen satu kantor ke kantor pemasaran perumahan itu dan memang bener jalanan menuju kompleks perumahan itu jelek buanget. Padahal ada ditengah kota. Persis di seberang Pom bensin Kajen dan di kompleks pendidikan Muhammadiyah. Jadi di ujung jalan menuju perumahan ada Politeknik Muhammadiyah dan di jalan arteri menuju perumahan ada SMK Muhammadiyah dan satu SD Negeri. Tapi ya kok jalannya juelek buanget. Mirip-mirip sungai pas musim kering, penuh batu dan berdebu. Dalam hati langsung merasa, pantesan harga perumahannya murah.

Perumahan ditawarkan dengan harga yang menurut saya, yang tidak punya uang buanyak, murah. Terjangkau untuk tabungan dua tahun setelah jadi PNS Daerah. Pertimbangan yang paling berat memang akses menuju perumahan yang jelek. Tapi ketika orang tua datang untuk melihat dan memberi izin, mereka tidak keberatan karena merasa daerah perumahan itu akan berkembang melihat letaknya di kompleks pendidikan. Jalan tidak terurus karena merupakan perbatasan tiga desa. Jadilah saya nekat saja, ambil KPR. Bismillah nggak papa bolak balik kantor melewati jalan yang jelek.

Belajar Kesalahan Dari Pembelian Rumah Pertama

Akhirnya setelah semua administrasi selesai rumah mulai dibangun. Pengembang cukup fair dengan memberitahukan bahwa perumahan dibangun dengan “kualitas seadanya”. Akhirnya saya harus keluar uang lagi untuk tambahan ini dan itu. Hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Ternyata bukan cuma masalah akses dan lokasi, kualitas dan spesifikasi bangunan luput dari pertimbangan saya. Ya pengalaman berharga, yang harus saya bayar dengan tabungan yang benar-benar tidak menyisakan saldo di tabungan.

Berkali-kali saya memberikan pemakluman kepada diri sendiri, yaa hal tersebut sampai luput karena saya jauh dari orang tua yang hanya bisa datang sekali, belum punya sosok lelaki yang bisa saya percaya penuh, dan kepincut harga yang murah dengan lokasi yang bagus. Saya juga terlalu ribet mikirin akses jalan sampai tanya ke teman yang di Dinas Pekerjaan Umum bagian Tata Kota, ternyata karena terletak di perbatasan tiga desa, pengaspalan akan diambil alih oleh kabupaten. Dan memang benar, sebelum rumah saya jadi, akses jalan yang paling bikin saya galau itu akhirnya jadi! Mulus lus kayak pantat bayi…

Mencari Rumah Seperti Mencari Jodoh

Alhamdulillah. Banyak yang bilang rumah itu ya seperti jodoh. Selain masalah kualitas bangunan, semua berjalan mudah. Mudah banget malah sampe saya bingung sendiri. Tapi setelah rumah jadi dan boleh ditempati, ternyata sarana macam lampu jalan dan jalan di depan perumahan belum selesai dikerjakan. Akhirnya saya bertahan di kosan selama empat bulan lagi. Jika memang mencari rumah yang bisa segera ditempati, satu lagi pelajaran yang luput dari saya, fasilitas umum. Yang paling sederhana seperti lampu jalan itu juga harus jadi perhatian. Nggak kebayang kalo pulang malem dan jalan perumahan gelap gulita. Nanges nanti. Udah gitu tinggal di rumah sendirian pula. Ngenes. Ini tuh udah kayak nemu dia yang rasanya cucok buanget, eh ternyata dia cuma anggep kita temen. Punya rumah tapi mau nempatin sendiri takut.

Akhirnya ketika semua sudah beres. Beberapa rumah di blok yang sama sudah ditempati, lampu jalan sudah mentereng, bulan Desember 2017, bulan terakhir saya berusia dua puluhan, saya pindah ke rumah sendiri. Alhamdulillah. Rumahnya tidak besar, tidak mewah, tapi ada kelebihan tanah yang cukup buat bikin rumah satu lagi, dan mengingat perjuangan mencari-cari-cari sampai akhirnya ketemu yang terakhir ini, yang ternyata setelah ketemu ya tidak sempurna tapi rasanya semuanya berharga.

Perlu Mengatur Keuangan Dengan Baik Dari Awal

Saya melewati usia dua puluh delapan tahun sampai dua puluh sembilan dengan menggalaukan masalah akses perumahan, bangunan, budget perumahan, dan sarana umum perumahan. Jika ada hal yang saya sesali, mungkin karena saya tidak belajar mengatur keuangan dengan baik. Demi mewujudkan keinginan “punya rumah sendiri enak nih”, saya hampir tidak pernah travelling, eh sempet ke Raung dan beberapa kali ke Jakarta untuk acara yang penting, dan terus berusaha menahan diri jajan-jajan gemas. Tersiksa? Enggak. Everything was worth the effort. Usia bertambah dan jika kita tidak menyusun skala prioritas dengan baik, saya takut semua terlanjur terlambat.

Semua memang sudah ada waktunya. Kita hanya harus percaya dan berusaha sekuat tenaga.

Jodoh Yang Tak Terduga

Satu bulan setelah saya tinggal di rumah sendiri, tiba waktunya akreditasi Puskesmas. Rumah impian akhirnya cuma dipake buat tidur. Berangkat pagi pulang malam, hari Minggu kadang tetap masuk mengejar target dokumen yang belum selesai dan di hari kerja masih harus tetap pelayanan. Saya menghabiskan 10 bulan usia tiga puluh saya menggalaukan akreditasi dan sedih karena di PHP brondong. Bulan Oktober ketika waktu Survey Akreditasi akhirnya tiba, seminggu setelah survei akreditasi selesai, saya dilamar. Oleh orang yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Di waktu yang tepat setelah selesai akreditasi.

Hal yang boro-boro pernah saya bayangkan. Someone asked my hand and I said yes. Begitu saja. Rasanya seperti rumah yang sampai hari ini saya tempati, tapi tidak lagi sendiri, tidak sempurna, banyak hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, but then again, everything was worth the effort.

Semua ada waktunya, kita cuma diminta percaya dan berusaha sekuat tenaga. Alhamdulillah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here