Ulasan Buku Kambing dan Hujan Karya Mahfud Ikhwan

ulasan-buku-kambing-dan-hujan-karya-mahfud-ikhwan

Buku Kambing dan Hujan adalah karya pertama dari Mahfud Ikhwan yang saya baca. Saya membaca novel ini di aplikasi iPusnas, aplikasi peminjaman buku online dan legal dari Perpustakaan Nasional.

Sungguh, iPusnas itu sangat membantu sekali untuk mengurangi jajan buku, yang belakangan memang saya mulai bingung mau menaruh buku di mana. Maafkan jadi curhat 😀

Tanpa berpanjang lebar lagi, berikut ulasan buku Kambing dan Hujan versi saya.

Blurb Buku Kambing dan Hujan

PEMENANG SAYEMBARA NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA (DKJ) 2014

Miftahul Abrar tumbuh dalam tradisi Islam modern. Latar belakang itu tidak membuatnya ragu mencintai Nurul Fauzia yang merupakan anak seorang tokoh Islam tradisional. Namun, seagama tidak membuat hubungan mereka baik-baik saja. Perbedaan cara beribadah dan waktu hari raya serupa jembatan putus yang memisahkan keduanya, termasuk rencana pernikahan mereka.

Hubungan Mif dan Fauzia menjelma tegangan antara hasrat dan norma agama. Ketika cinta harus diperjuangkan melintasi jarak kultural yang rasanya hampir mustahil mereka lalui, Mif dan Fauzia justru menemukan sekelumit rahasia yang selama ini dikubur oleh ribuan prasangka. Rahasia itu akhirnya membawa mereka pada dua pilihan: percaya akan kekuatan cinta atau menyerah pada perbedaan yang memisahkan mereka.

Informasi Buku Kambing dan Hujan

cover-buku-kambing-dan-hujan

Judul: Kambing dan Hujan
Penulis: Mahfud Ikhwan
Editor: Achmad Zaki
Penerbit: Penerbit Bentang (PT. Bentang Pustaka)
ISBN: 978-602-291-470-9
Cetakan Pertama: Mei 2015

Ulasan Buku Kambing dan Hujan

Di awal cerita, pembaca disuguhi permasalahan romansa antara Mif dan Fauzia. Masalah yang rumit. Saling mencintai tapi tak bisa bersatu karena perbedaan prinsip keluarga kedua belah pihak. Hingga Fauzia memutuskan untuk menyerah dan ingin pergi sejauh-jauhnya dengan Mif.

Berawal dari situ, pembaca sudah dibuat penasaran. Masalah apa sebenarnya yang mereka hadapi? Benturan macam apa yang membuat dua insan satu iman ini harus melalui jalan terjal? Hingga Fauzia mengambil tindakan ekstrim untuk kabur bersama Mif.

Begitulah, kisah cinta memang daya tarik yang jarang orang bisa elak. Hingga terus membuka halaman demi halaman untuk mencari tahu, seperti apa kisah dua pemuda ini nanti?

Kisah Romansa ini Ternyata Hanya Bungkusnya

Cerdas! Penulis membungkus kisah yang serius dengan bumbu romansa. Jika dibaca, sebenarnya kisah ini antara dua sahabat Moek dan Is, yang berbeda prinsip dalam mengamalkan dan mempelajari agamanya.

Bahkan hingga kini Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama masih mengalami pergesekan prinsip. Sama-sama islam, tapi ada beberapa hal yang berbeda. Mulai dari sholat subuh dengan dan tanpa qunut, perbedaan hari raya, juga beberapa tata cara salat yang tidak mengucapkan usali dan sayyidina.

Satu islam modern atau pembaru. Satu islam tradisional yang masih mempertimbangkan dan menghormati ajaran para orang tua.

“Menjadi orang Islam modern itu bukan berarti mengabaikan semua hal yang tidak masuk akal, tahu kalian? Apalagi, akal kalian yang cuma seupil itu! Berpikiran maju itu tidak berarti hal-hal yang berasal dari masa lalu itu kemudian diabaikan! Apa kedatangan Jibril di Gua Hira itu masuk nalar? Seberapa besar nalar kalian, mau menalar agama dan semua ciptaan Allah? Apa makhluk gaib itu bukan makhluk? Bagaimana kalau rumah kalian dirusak? Kalau ayam diusik saja mematuk, apalagi jin.”

Penggalan percakapan di atas adalah nasehat dari Pak Guru Mahmud. Ketika Is dan kawan-kawan akan merobohkan sebuah pohon mahoni raksasa. Pohon yang oleh warga sekitar dianggap berpenghuni dan sering dikasih sesajen.

Namun nasehat tersebut seperti menyentil saya. Saya yang terlalu kaku jika soal agama, hingga sering beradu pendapat dengan nenek yang masih mengadopsi warisan nenek moyang, padahal beliau juga rajin sholat. Istilahnya dua-duanya jalan bareng.

Berbeda dengan saya yang cenderung saklek jika menyangkut tentang agama. Jujur, dari buku Kambing dan Hujan saya belajar agar ke depannya lebih lunak. Nggak berargumen terlalu keras, jika orang tua mempunyai prinsip yang berbeda.

Kisah Persahabatan Moek dan Is

Sudah sejak kecil Moek dan Is bersahabat, mereka tinggal di satu desa yaitu Tegal Centong. Moek berasal dari keluarga yang cukup berada, sedangkan Is dari keluarga kurang mampu. Mereka berdua sama-sama pintar, sama-sama lulusan SR (Sekolah Rakyat), sama-sama tokoh agama yang sangat berpengaruh.

Untuk membeli buku, Is harus menggembala kambingnya Mbah Min. Sedangkan Mat (panggilan akrab Moek) sering mengikuti Is memggembala kambing. Mereka mempunyai tempat favorit yaitu Gumuk Genjik. Di mana terdapat banyak padang rumput untuk mengenyangkan kambing gembalanya Is.

Setelah lulus dari SR, Mat melanjutkan mondok. Sedangkan Is yang tak mampu melanjutkan pendidikan secara formal, memutuskan untuk terus belajar sendiri dengan kitab yang dibelinya, melalui buku pinjaman Mat, juga dengan Cak Ali.

“Is, atau sahabat mana pun, terlalu remeh dibanding masjid yang mesti kami makmurkan. Ia hanya perkara sepele dibanding murid-murid yang mesti kami didik. Dan, tentu saja, ini cuma debu—ya, debu. Ini pengorbanan yang kecil. Nuh harus merelakan anak-istrinya untuk dakwahnya. Ibrahim harus bermusuhan dengan ayahnya demi keyakinannya. Muhammad harus menghadapi seluruh keluarga besar Quraisy-nya untuk menegakkan kalimat Allah. Dan, apa arti seorang Is? Ia bukan apa-apaku. Hanya teman masa kecil. Aku menyayanginya, itu betul. Tapi, bukankah aku juga menyayangi baju yang dulu sering aku pakai untuk sekolah SR? Dan, jika baju kesayangan itu kemudian aus dan akhirnya cuma jadi gombal untuk lap meja, kenapa tidak dengan seorang teman masa kecil?”

Selanjutnya, dua sahabat ini memiliki pandangan yang berbeda mengenai agama. Is dan kelompoknya Cak Ali dianggap masyarakat sebagai orang yang nggak menghormati para sesepuh di kampung Tegal Centong.

Dengan pemahaman mereka yang tidak mengizinkan acara adat yang biasa para orang tua lakukan. Sering menggangap acara adat dekat dengan syirik. Juga beberapa pandangan yang sering berseberangan.

“Bagaimanapun, itu tindakan pemberantasan syirik yang kelewat berani, Pakde,” tukas Mif. “Apalagi, Pakde dan kawan-kawan saat itu masih sangat belia.”

“Kalau kami menunggu sedikit agak dewasa, mungkin malah kami akan sama sekali tidak berani. Kenapa kami begitu berani? Karena kami mencampur semangat membela agama dengan kenakalan masa remaja.”

Hingga puncaknya Is mendirikan masjid sendiri dengan kelompok Cak Ali. Masjid itu berada di Utara. Jadilah kala itu orang Tegal Centong terbagi menjadi dua kubu, Centong Selatan dan Centong Utara.

Merasa Related Dengan Keadaan Saya Saat Ini

Sekarang ini, saya tinggal di desa. Di kampung yang mayoritas pemikiran orang-orangnya masih tradisional. Ya seperti nenek saya tadi.

Lalu, suatu hari guru mengaji saya mondok di pesantren daerah Jawa Timur. Ketika pulang dia jadi berbeda. Saat mengimami salat, kata bismillah tidak lagi diucapkan. Awalnya saya juga kaget, tidak biasanya seperti ini.

Penampilannya jadi berbeda. Celananya selalu di atas mata kaki, berjenggot, bersiwak sebelum salat, juga banyak prinsipnya yang berubah. Hal ini membuat tetangga-tetangga bergunjing di belakang, hingga banyak sekali prasangka yang terlontar. Yang jelas, kok dia islamnya jadi aneh.

Melalui buku Kambing dan Hujan, pemahaman saya jadi terbuka. Jadi inilah pergesekan yang sedang terjadi. Bukan berarti agama islam berbeda, tetapi hanya pemahaman ilmunya saja yang berbeda.

Islam tetaplah islam, yang berkitab Al-Qur’an dan mencontoh perilaku Rasulullah melalui hadist.

Kesan Tentang Buku Kambing dan Hujan

Ketika buku Kambing dan Hujan di bahas dalam program mingguan WhatsApp Group Klub Blogger dan Buku, saya mengira jika membaca buku ini akan sangat membosankan. Mengingat tema yang disuguhkan bukan tema receh. Bukan main-main. Berat. Ini konflik agama.

Namun begitu mulai membacanya, saya nggak rela melepasnya sebelum selesai. Ringan, mengalir, dan tersisip beberapa humor yang seperti angin segar. Pokoknya betah sekali membaca buku ini, rasa kantuk menjadi hilang.

Saking asyiknya diksi yang dipilih, saya nggak rela melepas buku ini walau sambil masak, menyusui, atau saat anak tidur. Pokonya jangan kasih kendor!

Dalam penceritaannya penulis juga menggunakan beberapa sudut pandang dari tokoh inti. Sudut pandang yang digunakan melalui beberapa tokoh ini, membuat saya menjadi paham tentang pandangan pada masing-masing tokohnya. Penjabarannya dengan bahasa khas, yang nggak membingungkan.

Selama membaca buku ini saya nggak menemukan hal yang membuat saya terganggu. Justru saya sangat menikmatinya. Buku sangat berisi yang dikemas sangat ringan. Pesan yang disampaikan juga ngena banget! Endingnya juga memuaskan. Solusi masalahnya membuat saya terharu. Hal sederhana yang mampu meluruskan kesalahpahaman kedua belah pihak.

Jadi untuk rating saya kasih 4,5/5. Benar, hampir sempurna. Karena saya suka semuanya. Covernya pun menggambarkan tentang isi bukunya. Bukan rasa romansa seperti yang disajikan di awal cerita, tapi memang benar- benar menggambarkan sosok Is sebagai kambing dan Mat sebagai hujan yang digambarkan melalui merek susu.

Persahabatan mereka sungguh mengharu biru. Hingga saya terbawa perasaan hingga menangis dan tertawa. Sungguh, kisah yang sangat seru untuk dibaca. Pesan saya, kalian harus membaca buku Kambing dan Hujan ini.

Penulis : Ningsih
Penyunting : Antin Aprianti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here