Ulasan Buku Kambing dan Hujan Karya Mahfud Ikhwan

34
496
ulasan-buku-kambing-dan-hujan-karya-mahfud-ikhwan

Buku Kambing dan Hujan adalah karya pertama dari Mahfud Ikhwan yang saya baca. Saya membaca novel ini di aplikasi iPusnas, aplikasi peminjaman buku online dan legal dari Perpustakaan Nasional.

Sungguh, iPusnas itu sangat membantu sekali untuk mengurangi jajan buku, yang belakangan memang saya mulai bingung mau menaruh buku di mana. Maafkan jadi curhat 😀

Tanpa berpanjang lebar lagi, berikut ulasan buku Kambing dan Hujan versi saya.

Blurb Buku Kambing dan Hujan

PEMENANG SAYEMBARA NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA (DKJ) 2014

Miftahul Abrar tumbuh dalam tradisi Islam modern. Latar belakang itu tidak membuatnya ragu mencintai Nurul Fauzia yang merupakan anak seorang tokoh Islam tradisional. Namun, seagama tidak membuat hubungan mereka baik-baik saja. Perbedaan cara beribadah dan waktu hari raya serupa jembatan putus yang memisahkan keduanya, termasuk rencana pernikahan mereka.

Hubungan Mif dan Fauzia menjelma tegangan antara hasrat dan norma agama. Ketika cinta harus diperjuangkan melintasi jarak kultural yang rasanya hampir mustahil mereka lalui, Mif dan Fauzia justru menemukan sekelumit rahasia yang selama ini dikubur oleh ribuan prasangka. Rahasia itu akhirnya membawa mereka pada dua pilihan: percaya akan kekuatan cinta atau menyerah pada perbedaan yang memisahkan mereka.

Informasi Buku Kambing dan Hujan

cover-buku-kambing-dan-hujan

Judul: Kambing dan Hujan
Penulis: Mahfud Ikhwan
Editor: Achmad Zaki
Penerbit: Penerbit Bentang (PT. Bentang Pustaka)
ISBN: 978-602-291-470-9
Cetakan Pertama: Mei 2015

Ulasan Buku Kambing dan Hujan

Di awal cerita, pembaca disuguhi permasalahan romansa antara Mif dan Fauzia. Masalah yang rumit. Saling mencintai tapi tak bisa bersatu karena perbedaan prinsip keluarga kedua belah pihak. Hingga Fauzia memutuskan untuk menyerah dan ingin pergi sejauh-jauhnya dengan Mif.

Berawal dari situ, pembaca sudah dibuat penasaran. Masalah apa sebenarnya yang mereka hadapi? Benturan macam apa yang membuat dua insan satu iman ini harus melalui jalan terjal? Hingga Fauzia mengambil tindakan ekstrim untuk kabur bersama Mif.

Begitulah, kisah cinta memang daya tarik yang jarang orang bisa elak. Hingga terus membuka halaman demi halaman untuk mencari tahu, seperti apa kisah dua pemuda ini nanti?

Kisah Romansa ini Ternyata Hanya Bungkusnya

Cerdas! Penulis membungkus kisah yang serius dengan bumbu romansa. Jika dibaca, sebenarnya kisah ini antara dua sahabat Moek dan Is, yang berbeda prinsip dalam mengamalkan dan mempelajari agamanya.

Bahkan hingga kini Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama masih mengalami pergesekan prinsip. Sama-sama islam, tapi ada beberapa hal yang berbeda. Mulai dari sholat subuh dengan dan tanpa qunut, perbedaan hari raya, juga beberapa tata cara salat yang tidak mengucapkan usali dan sayyidina.

Satu islam modern atau pembaru. Satu islam tradisional yang masih mempertimbangkan dan menghormati ajaran para orang tua.

“Menjadi orang Islam modern itu bukan berarti mengabaikan semua hal yang tidak masuk akal, tahu kalian? Apalagi, akal kalian yang cuma seupil itu! Berpikiran maju itu tidak berarti hal-hal yang berasal dari masa lalu itu kemudian diabaikan! Apa kedatangan Jibril di Gua Hira itu masuk nalar? Seberapa besar nalar kalian, mau menalar agama dan semua ciptaan Allah? Apa makhluk gaib itu bukan makhluk? Bagaimana kalau rumah kalian dirusak? Kalau ayam diusik saja mematuk, apalagi jin.”

Penggalan percakapan di atas adalah nasehat dari Pak Guru Mahmud. Ketika Is dan kawan-kawan akan merobohkan sebuah pohon mahoni raksasa. Pohon yang oleh warga sekitar dianggap berpenghuni dan sering dikasih sesajen.

Namun nasehat tersebut seperti menyentil saya. Saya yang terlalu kaku jika soal agama, hingga sering beradu pendapat dengan nenek yang masih mengadopsi warisan nenek moyang, padahal beliau juga rajin sholat. Istilahnya dua-duanya jalan bareng.

Berbeda dengan saya yang cenderung saklek jika menyangkut tentang agama. Jujur, dari buku Kambing dan Hujan saya belajar agar ke depannya lebih lunak. Nggak berargumen terlalu keras, jika orang tua mempunyai prinsip yang berbeda.

Kisah Persahabatan Moek dan Is

Sudah sejak kecil Moek dan Is bersahabat, mereka tinggal di satu desa yaitu Tegal Centong. Moek berasal dari keluarga yang cukup berada, sedangkan Is dari keluarga kurang mampu. Mereka berdua sama-sama pintar, sama-sama lulusan SR (Sekolah Rakyat), sama-sama tokoh agama yang sangat berpengaruh.

Untuk membeli buku, Is harus menggembala kambingnya Mbah Min. Sedangkan Mat (panggilan akrab Moek) sering mengikuti Is memggembala kambing. Mereka mempunyai tempat favorit yaitu Gumuk Genjik. Di mana terdapat banyak padang rumput untuk mengenyangkan kambing gembalanya Is.

Setelah lulus dari SR, Mat melanjutkan mondok. Sedangkan Is yang tak mampu melanjutkan pendidikan secara formal, memutuskan untuk terus belajar sendiri dengan kitab yang dibelinya, melalui buku pinjaman Mat, juga dengan Cak Ali.

“Is, atau sahabat mana pun, terlalu remeh dibanding masjid yang mesti kami makmurkan. Ia hanya perkara sepele dibanding murid-murid yang mesti kami didik. Dan, tentu saja, ini cuma debu—ya, debu. Ini pengorbanan yang kecil. Nuh harus merelakan anak-istrinya untuk dakwahnya. Ibrahim harus bermusuhan dengan ayahnya demi keyakinannya. Muhammad harus menghadapi seluruh keluarga besar Quraisy-nya untuk menegakkan kalimat Allah. Dan, apa arti seorang Is? Ia bukan apa-apaku. Hanya teman masa kecil. Aku menyayanginya, itu betul. Tapi, bukankah aku juga menyayangi baju yang dulu sering aku pakai untuk sekolah SR? Dan, jika baju kesayangan itu kemudian aus dan akhirnya cuma jadi gombal untuk lap meja, kenapa tidak dengan seorang teman masa kecil?”

Selanjutnya, dua sahabat ini memiliki pandangan yang berbeda mengenai agama. Is dan kelompoknya Cak Ali dianggap masyarakat sebagai orang yang nggak menghormati para sesepuh di kampung Tegal Centong.

Dengan pemahaman mereka yang tidak mengizinkan acara adat yang biasa para orang tua lakukan. Sering menggangap acara adat dekat dengan syirik. Juga beberapa pandangan yang sering berseberangan.

“Bagaimanapun, itu tindakan pemberantasan syirik yang kelewat berani, Pakde,” tukas Mif. “Apalagi, Pakde dan kawan-kawan saat itu masih sangat belia.”

“Kalau kami menunggu sedikit agak dewasa, mungkin malah kami akan sama sekali tidak berani. Kenapa kami begitu berani? Karena kami mencampur semangat membela agama dengan kenakalan masa remaja.”

Hingga puncaknya Is mendirikan masjid sendiri dengan kelompok Cak Ali. Masjid itu berada di Utara. Jadilah kala itu orang Tegal Centong terbagi menjadi dua kubu, Centong Selatan dan Centong Utara.

Merasa Related Dengan Keadaan Saya Saat Ini

Sekarang ini, saya tinggal di desa. Di kampung yang mayoritas pemikiran orang-orangnya masih tradisional. Ya seperti nenek saya tadi.

Lalu, suatu hari guru mengaji saya mondok di pesantren daerah Jawa Timur. Ketika pulang dia jadi berbeda. Saat mengimami salat, kata bismillah tidak lagi diucapkan. Awalnya saya juga kaget, tidak biasanya seperti ini.

Penampilannya jadi berbeda. Celananya selalu di atas mata kaki, berjenggot, bersiwak sebelum salat, juga banyak prinsipnya yang berubah. Hal ini membuat tetangga-tetangga bergunjing di belakang, hingga banyak sekali prasangka yang terlontar. Yang jelas, kok dia islamnya jadi aneh.

Melalui buku Kambing dan Hujan, pemahaman saya jadi terbuka. Jadi inilah pergesekan yang sedang terjadi. Bukan berarti agama islam berbeda, tetapi hanya pemahaman ilmunya saja yang berbeda.

Islam tetaplah islam, yang berkitab Al-Qur’an dan mencontoh perilaku Rasulullah melalui hadist.

Kesan Tentang Buku Kambing dan Hujan

Ketika buku Kambing dan Hujan di bahas dalam program mingguan WhatsApp Group Klub Blogger dan Buku, saya mengira jika membaca buku ini akan sangat membosankan. Mengingat tema yang disuguhkan bukan tema receh. Bukan main-main. Berat. Ini konflik agama.

Namun begitu mulai membacanya, saya nggak rela melepasnya sebelum selesai. Ringan, mengalir, dan tersisip beberapa humor yang seperti angin segar. Pokoknya betah sekali membaca buku ini, rasa kantuk menjadi hilang.

Saking asyiknya diksi yang dipilih, saya nggak rela melepas buku ini walau sambil masak, menyusui, atau saat anak tidur. Pokonya jangan kasih kendor!

Dalam penceritaannya penulis juga menggunakan beberapa sudut pandang dari tokoh inti. Sudut pandang yang digunakan melalui beberapa tokoh ini, membuat saya menjadi paham tentang pandangan pada masing-masing tokohnya. Penjabarannya dengan bahasa khas, yang nggak membingungkan.

Selama membaca buku ini saya nggak menemukan hal yang membuat saya terganggu. Justru saya sangat menikmatinya. Buku sangat berisi yang dikemas sangat ringan. Pesan yang disampaikan juga ngena banget! Endingnya juga memuaskan. Solusi masalahnya membuat saya terharu. Hal sederhana yang mampu meluruskan kesalahpahaman kedua belah pihak.

Jadi untuk rating saya kasih 4,5/5. Benar, hampir sempurna. Karena saya suka semuanya. Covernya pun menggambarkan tentang isi bukunya. Bukan rasa romansa seperti yang disajikan di awal cerita, tapi memang benar- benar menggambarkan sosok Is sebagai kambing dan Mat sebagai hujan yang digambarkan melalui merek susu.

Persahabatan mereka sungguh mengharu biru. Hingga saya terbawa perasaan hingga menangis dan tertawa. Sungguh, kisah yang sangat seru untuk dibaca. Pesan saya, kalian harus membaca buku Kambing dan Hujan ini.

Penulis : Ningsih
Penyunting : Antin Aprianti

34 COMMENTS

  1. Woww meskipun aku nonis…tp aku penasaran banget sihh….jadi keinget pernah denger curhatan bapak tukang bakso langganan yg bahas tentang NU dan Muhammadiyah, ya aku dengerin aja sih. Fix lahh mau baca buku kambing dan hujan juga…thank you buat ulasannya yg menarik kak.

  2. Sepertinya menarik ya, saya suka sama kalimat “Berpikiran maju itu tidak berarti hal-hal yang berasal dari masa lalu itu kemudian diabaikan!”. Belakangan ini orang yang mengaku berpikiran maju seringkali merasa yang paling benar.

  3. Referensi buku yang bagus, buat muslim supaya saling menghargai perbedaan mazhab sehingga ngga terpecah2 atau gampang terkotak2 🙂
    Thanks infonya..

  4. Penjabaran dari penulisan artikel ini sangat menarik, sehingga membuat aku jadi penasaran sama isi bukunya. Benarkan tidak berat, karena penulis memberikan rating hampir sempurna dan ringan di baca katanya.

    Ternyata sejak dahulu kita sudah terkotak-kotak dalam beragama, menganggap asing ibadah yang dilakukan oleh saudara dan kerabat terdekat sendiri dan mengasingkan mereka karena tidak sejalan dalam pemahaman. Padahal islam pun ada beberapa panduan yang dikenal dengan mazhab.

    Opini Pribadi: Jika kita tidak bisa bertoleransi dengan sesama muslim bagaimana kita bisa bertoleransi dengan non muslim.

    Aku penasaran sama konfilk yang terjadi dalam buku tersebut. Semoga mood baca aku baik.. Hehehe

  5. Pemahaman yang berbeda dalam agama islam yang terjadi biasanya hanya melalui omongan-omongan orang. Katanya begini, katanya begitu. Jarang ada yang menceritakan dari sudut pandang yang lain. Selalu bersikukuh tentang pemahamannya masing-masing.

    Agama diceritakan dengan cara yang sederhana tentunya akan semakin menjadi menarik dan membuat orang lebih banyak belajar agama.

    Tulisan yang menarik 🙂

  6. Saya setuju dengan penulis artikel di atas yang mengatakan bahwa penulis buku kambing dan hujan ini cerdas. Sang penulis mencoba membuka opini para pembaca untuk memandang islam dengan toleransi. Karena dengan toleransi inilah semua bisa beriringan.

  7. Klasik ya memang urusan pecahan2 islam ini. Ada seorang tokoh yang dulu bilang, ini sebetulnya bukan pecahan tapi justru elemen2 yang saling memperkuat. Misalnya, NU yang ngerokok nanti kalau sakit ke RS nya Muhammadiyah 🙂

  8. wow, jadi penasaran sama buku ini. permasalahan agama diangkat dengan ringan ini patut diacungi jempol. relate banget sama kehidupan saat ini, di keluarga saya sendiri juga berbeda beda. ada yang tahlilan ada yang ngga, ada yang lebaran duluan, sulit memang….tapi semakin banyak paham tentang agama biasanya semakin bijak dalam bersikap (begitu kata ustadz tadi siang)

    terima kasih review bukunya

  9. Trima kasih yah KUBBU buat info iPusNasnya, ternyata pilihan bukunya menarik-menarik yah. Lumayan banget buat menghemat tempat penyimpanan yang mulai berkurang. Ternyata seiman pun tak menjamin sepemikiran yah. Tapi semoga segala perbedaan, membuat kita semakin kaya dalam iman yah.

  10. Tidak banyak novel yang berani membahas perbedaan pandangan seperti ini. Kalau melihat tahun terbitnya, masih terhitung baru, sekitar 5 atau 6 tahun lainnya. Sepertinya penulis luar biasa dalam melakukan riset. Jadi penasaran untuk membaca novelnya secara utuh.

  11. Pada akhirnya, perbedaan penafsiran dalam menkhimatkan keyakinan tersebut, tidak akan berakhir, sebelum dunia ini berakhir. Persamaan dan berbedaan bukan sekedar bersebrangan tapi juga beriringan. Kita ada di titik yang mana. Seritidaknya, Buku Kambing dan Hujan membuka pemahaman kita tentang hal tersebut.

  12. waw ini sih namanya kelewat cerdas ya. Bisa2nya membahas konflik sepelik NU dan Muhammadiyah di balik kisah cinta. Tapi memang benar ya, cinta jadi obrolan dan bacaan paling banyak menarik minat.

  13. Tadinya saya berpikir dengan membaca judulnya saja kalau buku ini, membosankan, namun karena ulasannya yang cukup menarik, jadi pengen baca isinya keseluruhan.

  14. Dulu waktu pertama kali pergi dari kampung (Kuliah) saya baru mulai menemukan banyak perbedaan…. awal awal saya merasa aneh…. tapi sekarang sudah biasa aja. tetap memegang teguh prinsip yang sudah di ajarkan guru dikampung.

  15. Reviewnya keren, ringan tapi bikin penasaran.
    Bagaimana sebuah buku yang bertema berat bisa diawali dengan kisah romansa dibaca enggak membosankan pun bermuatan hikmah yang bakal memberi pencerahan pembacanya, wah sunggu layak kalau dapat rating sekian.
    Memang ini gesekan yang sampai sekarang tak berkesudahan ya, dulu cuma antara NU dan Muhammadiyah saja, kini banyak sekali pemahaman yang berbeda…ah. Semoga kita bisa menghormati masing-masing pilihan

  16. Buku Kambing dan Hujan punya cerita yang unik banget. Saya baca ulasan dari tulisan ini saja tertarik buat baca.

    Belum pernah juga sih minjam buku di iPusnas. Bakal cari infonya nih segera soal buku Kambing dan Hujan

  17. Buku yg sangat menarik, ulasannya juga kece banget. Urusan prinsip dan pemahaman agama memang rumit ya, krn terkait dg apa yg kita lakukan sehari-hari. Semoga meskipun ‘teknis’ menjalankan agama berbeda tidak justru membuat perpecahan dalam agama ya, krn sejatinya yg dipercaya adalah Tuhan yg sama.

  18. Seandainya Rasulullah masih ada, tentulah perbedaan pemahaman itu tak ada, karena mencontoh satu saja, hehe.. Menarik sih ini kayaknya buat menambah pemahaman dan melihat berbagai sudut pandang..Thanks review-nya.

  19. Kisah cinta yang terkendala perbedaan agama ataupun aliran agama nampaknya menjadi kisah cinta yang tak pernah lekang oleh waktu. Dua pilihan yang selalu menjadi dilema pula pada sebuah hubungan yang memiliki perbedaan, percaya atau menyerah. Sekelumit kisah atau cerita itu adalah bungkus awal dari isi buku “kambing dan hujan”.

    Namun, ternyata ada sebuah twist yang mengejutkan dari penulisnya, yang membuat penulisnya pantas memenangkan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here