Trip Based on Book Max Havelaar: Napak Tilas Multatuli

Bagi pecinta sejarah Indonesia, pasti tidak asing dengan salah satu karya sastra novel yang berjudul “Max Havelaar”. Buku ini ditulis oleh seorang penulis Belanda Eduard Douwes Dekker, atau yang biasa kita kenal dengan nama pena Multatuli.

Karena banyak kubbers yang antusias dengan sejarah Multatuli, maka Klub Blogger dan Buku (KUBBU) Backpacker Jakarta mengadakan Trip BOB (Based on Book) Max Havelaar.

Pada tanggal 24 Agustus 2019, sekitar 30 warga KUBBU dipandu oleh Nassa dan Wildan menyusuri kota Banten dan Serang. Mengulik setiap sudut kota yang menyimpan banyak kisah sejarah dari sosok Multatuli.

Tempat Sejarah Multatuli

Inilah beberapa tempat yang dikunjungi kubbers, ketika napak tilas Multatuli.

1. Tempat Tinggal Multatuli

Setibanya di stasiun Rangkasbitung, kubbers langsung menuju tempat pertama yaitu rumah yang pernah ditinggali Multatuli. Untuk menuju tempat pertama bisa ditempuh dengan berjalan kaki, kurang lebih 15-20 menit.

di depan rumah multatuli - kubbu.net
Di depan tempat tinggal Multatuli zaman dahulu

Tiba di tempat pertama, terlihat rumah tua bercat putih dengan pelataran yang terlihat kotor dan sangat tidak terawat. Bahkan terlihat sedikit angker. Dulu, rumah inilah yang ditempati oleh Multatuli.

Sayangnya kubbers tidak bisa masuk ke rumah tersebut, hanya bisa melihat dari luar pagar saja. Katanya, rumah tersebut sudah milik pribadi. Jadi tidak bisa diakses oleh umum.

2. Rumah Batik “Imah Batik Sahate”

Lanjut ke tempat kedua, tempat pembuatan batik khas Lebak yaitu Rumah Batik “Imah Batik Sahate”. Untuk menuju ke tempat kedua masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, sekitar 7 menit.

Di sini, kubbers bisa melihat 12 macam motif batik khas Lebak yang sangat tradisional dan memiliki arti dari setiap motifnya. Di antaranya ada Motif Seren Taun, Motif Sawarna, Motif Gula Sakojor, Motif Pare Sapocong, Motif Kahirupan Baduy, Motif Leuit Sijimat, Motif Rangkasbitung, Motif Caruluk Saruntuy, Motif Lebak Bertauhid, Motif Angklung Buhun, Motif Kalimaya dan Motif Sadulur.

imah batik sahate - multatuli - kubbu.net
Imah Batik Sahate

Proses pembuatan batiknya tidak menggunakan teknik batik tulis, melainkan menggunakan teknik batik cap.

Kubbers yang suka batik, kalau main ke Banten wajib mampir ke Imah Batik Sahate.

3. Museum Multatuli

museum multatuli - kubbu.net
Museum Multatuli

Museum Multatuli menjadi destinasi utama yang wajib dikunjungi apabila berkunjung ke Rangkasbitung. Museum ini diresmikan tahun lalu, tepatnya tanggal 11 Februari 2018. Museum Multatuli juga merupakan museum antikolonial pertama di Indonesia lho.

Lokasi Museum Multatuli ini berada di dekat alun-alun Rangkasbitung, tepatnya di samping Imah Batik Sahate.

Di luar museum terdapat patung Multatuli sedang duduk membaca buku. Kemudian ketika masuk museum, kalian akan melihat sebuah kutipan Multatuli.

“Tugas Seorang Manusia Adalah Menjadi Manusia” – Multatuli

Untuk mengelilingi museum, kubbers dipandu oleh seorang guide yang menjelaskan sejarah kolonialisme yang terjadi di Lebak.

Jadi, di museum ini memiliki tujuh ruangan yang setiap ruangannya memiliki konsep yang berbeda-beda. Di mana setiap ruangannya menjelaskan periode sejarah kolonialisme yang berbeda-beda.

Desain dan konsep yang unik di Museum Multatuli membuat setiap sudut museum ini sangat instagramable. Selain bisa memperkaya ilmu sejarah, main ke Museum Multatuli juga menambah stok foto kece kalian lho.

4. Perpustakaan Saidjah dan Adinda

nonton bareng di perpustakaan Saidjah dan Adinda - multatuli - kubbu.net
Nonton bareng sejarah Multatuli

Selesai berkeliling di Museum Multatuli, mari bergeser sedikit ke Perpustakaan Saidjah dan Adinda.

Nama perpustakaan ini diambil dari kisah dua pasangan yang terdapat di buku Max Havelaar. Uniknya, perpustakaan ini menggunakan desain dari bambu-bambu yang memberikan kesan tradisional tetapi terlihat menarik.

Tujuan kubbers ke perpustakaan ini bukan untuk membaca di perpustakaan, melainkan Nonton Bareng (NOBAR) sejarah Multatuli. Konsep ruangan untuk pemutaran filmnya seperti bioskop mini, sangat nyaman.

Film yang diputar di sini berdurasi 6 jam. Namun, karena tak memungkinkan jadi kubbers hanya menonton film dengan durasi kurang lebih 1,5 jam. Untuk yang penasaran dengan film sejarah Multatuli ini, kalian bisa menonton versi lengkapnya di youtube.

5. Tempat Tinggal Douwes Dekker Huis

Setelah selesai mengisi amunisi, dan sebelum ke tempat terakhir. Kubbers pun tak lupa berkunjung ke rumah yang dahulu sempat ditempati oleh Douwes Dekker.

Letaknya pun tak jauh dari alun-alun, kubbers hanya harus berjalan melewati sebuah rumah sakit Adjidarmo, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat. Kemudian sampai di tujuan, rumahnya terletak di dekat parkiran kendaraan bermotor.

rumah Douwes Dekker - trip based on book - kubbu.net
Tempat tinggal Douwes Dekker Huis zaman dahulu

Sayangnya, ketika sampai di lokasi. Rumah yang dahulu ditempati Douwes Dekker Huis, saat ini lihat sangat tidak terawat. Atap yang bocor, ubin yang kotor dan rusak. Serta cat dinding yang berubah warna kuning dan kecokelatan.

Sepertinya rumah ini kurang diperhatikan oleh masyarakat sekitar, ataupun PEMDA setempat. Semoga sejarah rumah ini tetap berdiri kokoh dan tidak lapuk dimakan zaman.

6. Rumah Dunia Serang

Dari Rangkasbitung mari beralih ke Serang, berkunjung ke taman baca dan literasi bernama “Rumah Dunia Serang”. Untuk menuju ke Rumah Dunia Serang harus ditempuh dengan naik angkot, karena lokasinya cukup jauh.

Jadi, Rumah Dunia Serang ini didirikan oleh Heri Hendrayana Harris atau lebih dikenal dengan nama Gol A Gong. Taman baca ini dibangun dengan lahan yang cukup luas, sekitar 1000 meter persegi. Banyak sekali karya buku yang dihasilkan dari seorang pendiri taman baca ini salah satunya yang terkenal yaitu “Balada si Roy”.

rumah dunia - multatuli - kubbu.net
Rumah Dunia Serang

Sayangnya saat itu, kubbers nggak bisa bertemu langsung dengan pendiri Rumah Dunia Serang. Hanya berdiskusi dan sharing tentang Rumah Dunia Serang dengan pembicara lain, Mas Abdul Salam beserta tim pengurus lainnya.

Di sesi sharing ini, kubbers saling bertukar pikiran tentang dunia literasi sebagaimana seperti slogan KUBBU yaitu Membaca, Menulis dan Menginspirasi. Semoga dengan adanya sharing ini, peserta trip yang hadir bisa lebih bersinergi lagi untuk kemajuan literasi.

Selain sesi sharing, kubbers juga diajak berkeliling melihat tempat- tempat yang ada di rumah baca ini. Tidak hanya taman baca, ada yang unik dari tempat ini yaitu mereka mempunyai tempat semacam aula pertunjukan seni, di mana orang-orang ataupun pengurus rumah baca ini bisa mengeksplorasi seni bermusik.

Di sini juga terdapat semacam kantin mini, jadi jangan khawatir lapar dan haus. Cukup membawa bekal uang, kubbers bisa membeli makanan dan minuman di sini. Dengan jajan di kantin mini ini, kubbers juga sudah membantu usaha kecil dari pengurus yang ada di rumah baca ini lho.

Seru sekali ya Trip Based On Book Max Havelaar kali ini, ternyata segitu serunya Napak Tilas Multatuli. Belajar sejarah kalau sekalian trip begini nggak bikin ngantuk lho, jadi kalau kalian suka ngantuk saat belajar sejarah, mending ikut trip based on book bareng KUBBU saja 😀

Nah, untuk kalian yang belum sempat ikutan Trip Based On Book Max Havelaar tungguin trip based on book lainnya ya 🙂 Biar nggak ketinggalan infonya, kalian bisa kepoin sosial media KUBBU di sini.

 

Ditulis oleh : Achmad Wildan
Editor : Antin Aprianti

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here