Liburan Nuansa Imlek di Chinatown Bandung

0
35

Nuansa merah menyala, aneka lampion dan gaun cheongsam adalah ciri khas imlek yang kita kenal. Meski saya tak merayakan imlek, namun seru juga melihat atau menikmati suasana budaya Tiongkok. Jika di Jakarta kita mengenal Glodok sebagai kawasan Chinatown maka di Bandung ada pula Chinatown yang sayang dilewatkan karena banyak spot foto yang instagramable.

Tercatat pada prasasti di dinding luar gedung bahwa gedung ini bernama Kwee Liang An yang diresmikan tanggal 13 Mei 1938 ini disulap menjadi kawasan pecinan yang cantik. Berlokasi di jalan Klenteng nomor 41 Ciroyom, terbilang cukup strategis. Saya pun menyambangi Chinatown Bandung ini bersama teman-teman Backpacker Jakarta RT 29. Kami berlima menjadikan Chinatown sebagai wisata terakhir selama di Bandung sambil menunggu jadwal kereta pulang.

Setelah membayar tiket masuk sebesar tiga puluh ribu rupiah, kami segera memasuki kawasan pecinan ini yang dinding bagian depannya dipenuhi mural makanan dan benda-benda tempo dulu. Di sebelah kiri pintu masuk terdapat benda-benda jadul, dari piring keramik hingga sepatu roda.

Rumah-rumah ala Tiongkok

Rumah-rumah ala Tiongkok berjajar mengelilingi lapangan tengah yang hijau. Di barisan depan, rumah berfungsi sebagai toko merchandise.

Semakin ke dalam, rumah-rumah difungsikan sebagai tempat berfoto. Ada tempat yang futuristik dipenuhi kaca-kaca, ada tempat yang dibuat seolah suasana Tiongkok zaman dahulu. Aneka ornamen tempo dulu menghiasi area berfoto. Ada pula yang difungsikan sebagai restoran. Kami berlima tentu saja senang berfoto-foto di aneka rumah-rumahan itu dengan aneka gaya.

Area restoran pun cukup luas di Chinatown ini. Aneka menu bisa dipesan. Selain itu mural di dekat restoran pun lucu dijadikan tempat berfoto, apalagi mural ini lengkap dengan aneka benda tempo dulu seperti kandang ayam dan sebagainya. Kami yang cukup pegal berkeliling akhirnya memesan minum dan duduk menikmati pemandangan ruang terbuka hijau di depan kami.

Ruang Terbuka Hijau

Usai berfoto keliling rumah, kami tiba di ruang terbuka hijau, bukan hijau dipenuhi tanaman tapi lantainya dilapisi rumput sintetis dan dicat hijau. Ada yang dipenuhi tenda-tenda untuk anak-anak bermain dilengkapi parit kecil di sekelilingnya. Selain itu ada juga jembatan merah yang lucu untuk berfoto.

Ruang terbuka hijau selanjutnya adalah spotlight Chinatown. Area yang sudah terlihat dari pintu masuk utama. Lapang rumput luas dilapisi rumput buatan dilengkapi dengan boneka-boneka besar untuk santai-santai manja. Meski mengaku backpacker tapi tetap saja kami berlima perempuan tangguh yang kadang berubah manja melihat spot unyu-unyu begini.

Menikmati dedaunan yang melambai dihembus angin, langit cerah terlihat saat kami rebah di atas boneka besar berwarna abu-abu. Karena jadwal kereta kembali ke Jakarta sudah sangat mepet, maka kami tak bisa berlama-lama santai di lapangan hijau. Sebelum keluar, kami sempatkan berfoto dulu di area lampion yang memang sangat antri untuk berpose di sini.

Plus Minus Chinatown Bandung

Namanya tempat wisata, pasti ada saja plus dan minusnya.  Plusnya di Chinatown ini cukup lengkap dari atm, restoran hingga toko oleh-oleh. Minusnya harga tiket masuk yang agak mahal, lalu area yang tidak terlalu luas untuk pengunjung yang cukup banyak serta area parkir yang terbatas. Namun, buat saya sih Chinatown ini boleh juga lah unutk dikunjungi buat yang bosen dengan wisata Bandung yang itu-itu saja. Keterangan lengkap tentang Chinatown Bandung bisa diakses di sini.

Baca juga: Wisata ke Chinatown Semarang

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here