Alasan Candu Pada Pendakian, Terutama Papandayan

0
101

Nanjak Papandayan, lagi?

Mbaknya yang bener aja, masa setiap tahun ke Papandayan, mau ngapain? Silaturahmi sama Omen?

Mungkin ada yang masih belum kenal sama Omen. Siapa sih dia? Penunggu Papandayan atau gimana deh? Baiklah, berikan saya ruang untuk memperkenalkan siapa sebenarnya Omen ini.

Omen adalah nama yang biasa disematkan pada babi-babi gendut nan momtok yang sering bikin resah ditambah rindu di pelataran kemping Pondok Saladah. Iya, jadi kalau kalian mengaku pernah ke Papandayan tapi belum pernah dibuat resah oleh Omen, sungguh kalian harus balik lagi.

Kenapa Papandayan yang selalu jadi tempat kembali? Karena ada cerita tentang hati yang terluka, pulih, jatuh cinta, luka lagi, dan pulih lagi di setiap jejak kaki yang aku tinggal di sana. Hanya aroma kawah yang selalu jadi pembukaan paling romantis yang tak pernah melukai kemudian menimbulkan kecewa. Sisanya, selalu manis di awal lalu bitter after taste, macam Aspartame atau Acesulfame (kind of artificial sweetener).

Alasan pertama ke Papandayan adalah, asal sebut saja, yang penting aku pergi di tanggal 6 Desember 2015. Iya, itu tanggal pernikahan dia yang pernah sangat ku inginkan dengan wanitanya, yang sayangnya bukan aku, kan sedih ya.

Mana sanggup aku datang, pura-pura bahagia, pura-pura ikut senang, aku nggak suka kepura-puraan, apa pun bentuknya.

“Ti, dateng ya nikahan ****, tanggal 6 Desember.”

Suara di sebrang sana yang berdesible rendah tapi bagai petir di ulu hati.  Entah apa yang aku rasa saat itu. Kepala mendadak berkunang-kunang, kemudian perut rasanya mual. Dengan kesadaran yang dipertanyakan, aku asal saja menjawab.

“Wah, selamat ya, ikut bahagia. Maaf banget tapi, aku udah janji sama teman-teman mau naik gunung. Nggak mungkin dibatalin, kasihan mereka kekurangan personel.”

Meyakinkan ya? Aku jawab dengan tegas, tanpa ada getaran di suara, sangat alami, sungguh aku penipu yang ulung. Kemudian, terdengar lagi suara dari ujung sana, suara yang benar nampak kecewa.

“Nggak bisa diundur, Ti?”

Pembicaraan tawar-menawar agar aku tetap datang terus saja berlanjut, sampai akhirnya dia menyerah dengan keras kepalaku, yang selama aku jatuh cinta dengannya tak pernah kuperlihatkan segamblang ini, karena sekarang sudah tak ada lagi kita, jadi ceritanya sudah berbeda.

Jahat ya! Dia tahu dengan pasti, aku jatuh cinta sepenuh hati, aku berharap setengah mati, tapi dia memilih untuk pura-pura tak peduli, kan asem. Lalu, hari itu, detik itu, aku langsung buka google dan ketik di pencarian, “open trip naik gunung tanggal 6 desember 2015”.

Akhirnya, aku menemukan Open Trip dari seorang bernama Andri, di tanggal yang sakral itu. Aku kemudian segera WA si Leni, saat itu juga, menceritakan perihal pedih yang tak bisa ditawar lagi. Sampai keluar ucapan dari Leni, “Beb, lo mau kemana aja gw temenin tanggal segitu.”

Kemudian, aku utarakan perihal keinginan untuk naik gunung, dan Leni, terkejut. Bukan apa, aku bahkan belum pernah naik gunung sebelumnya, nggak tahu seperti apa itu nanjak gunung, apa aja yang harus dibawa. Dengan berat hati tapi kasihan ke temannya yang lagi patah hati ini, akhirnya dia mengiyakan donk.

Akupun mendadak rajin searching tentang naik gunung. Dan, sesaat setelah daftar trip, si Andri langsung kasih list barang yang harus dibawa, dan aku nggak punya semuanya, dan aku jarang banget punya teman dengan hobi ini. Akhirnya kita berdua, beli.

H-10 sampai H-3 kerjaan kita keluar masuk toko outdoor demi cari-cari perlengkapan, dari mulai sleeping bag, jaket, tas keril dll. Entah sudah berapa toko outdoor yang kita sambangi, mendadak kita jadi bisa buat daftar toko outdoor sekitaran Depok-Cibubur, hahahaha.

Sampai di H-3.

Andri  : Ti, sorry ya kita batal bikin trip ke Papandayan tanggal 6, karena kuotanya kurang, jadi mungkin kita undur.

Titi      : Yah , nggak bisa donk, Ndri.

Percakapan di chat WA berlanjut, intinya gagal ikut trip Andri. Dan, ini sudah tanggal 1 Desember, H-3. Aku kembali searching, dan tak menemukan apa-apa. Sampai, akhirnya aku teringat tentang seorang yang pernah ngasih tahu kalau dia sering bawa trip ke Gunung. Di hujan deras sore itu, aku berdua Leni langsung datang ke sana. Dan, sungguh sial, orang ini nggak bisa antar, sedih.

Aku pun terus memohon, sampai dia akhirnya panggil temannya ke toko, namanya Eka, dia penyelamat kami.

Hari H, Jumat, 4 Desember 2015.

Malam itu, aku berdua Leni jalan naik motor ke Kampung Rambutan dengan Tas Keril baru di punggung. Ternyata agak rumit bawa motor, dengan keril segede dedek bayi beranjak balita di punggung. Kita akhirnya ketemu Eka dan temannya Dedi, dan ketemu Kak Zul langsung di Terminal Guntur, Garut.

Kita berlima sampai Papandayan subuh-subuh sekali, dengan suhu saat itu yang dinginnya bikin aku rindu pelukan dia, eh, kaya pernah dipeluk aja, suka halu. Kita makan dan siap-siap nanjak, sekitar setengah 7 pagi, kita mulai nanjak, dan ternyata rasanya, capek.

Sepanjang jalan aku mengeluh, belum lagi jalanan licin bekas hujan yang katanya semalam, sempurna untuk pemula yang manja. Satu kalimat Eka yang rasanya dirapalnya ratusan kali setiap kita mengeluh, “Oii, semangat , depan warung!”.

Dan, aku berdua Leni selalu percaya. Padahal, masih jauh. Ingin “wkwkwk” rasanya kalau ingat.

Tapi, semakin naik ke atas, ada beban yang entah kenapa sepertinya ikut lepas beserta lelah yang landas. Rasanya, ada morphin yang membuat aku mulai merasa sepertinya akan candu, akan lebih riuh dari rindu, aku jatuh cinta lagi, entah pada apa.

Kaki terus melangkah, sampailah kami di Pondok Seladah, yang ternyata menjadi tempat kita berkemah. Tawa ini begitu lepas, seolah lupa kalau hati sedang “babras”. Dengan semangat 45, aku berdua Leni berlarian di antara Edelweis yang sebelumnya hanya kubaca dari novel-novel picisan.

Malampun datang, dinginnya lebih-lebih dari tatapan dia yang ternyata memelihin yang lain. Tapi, ada hangat yang menelusup, ditemani keheningan yang tercipta dengan sempurna. Sampai, tenda kami ditamui Omen, baru kami mulai riuh dan gaduh, tapi tetap saja ditengah ketegangan itu, tawa terus saja lepas.

Sampai, pagi itu, hujan deras, pupus sudah harapan menikmati sunrise di Hutan Mati. Ini, yang tak pernah kulupa, selamanya. Kami berjalan ke Hutan Mati ditemani kabut tebal, persis seperti kabut di hatiku. Dan, tetap, aku masih sanggup bikin ucapan “happy wedding”, sungguh pelaku drama paling luar biasa bukan?

Sepanjang perjalanan turun, hujan deras menemani kami, jalanan pun makin becek dan licin, apalagi Papandayan belum seperti sekarang. Tapi, di setiap langkah itu, aku akhirnya sadar, rasanya lukaku telah luruh bersama tetesan air hujan yang jatuh.

Sejak hari itu, ada banyak pendakian-pendakian lain, Prau, Merbabu, Merapi, Gede, Sumbing, Guntur dan tentu Papandayan yang lagi dan lagi, sudah empat kali sampai saat ini Februari 2019. Papandayan selalu jadi tempat pulang.

Begitulah aku jatuh cinta pada hawa pendakian, karena “dia” yang mengobati setiap luka hati, dengan sempurna dan seksama. Terima kasih atas kesempatan-kesempatan ini Tuhan, begini cara Kau buat aku jatuh cinta pada ciptaanMu yang lain, alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here